Pasar Sorogenen Yogyakarta " Di Antara Dilema " - dapoer nyonyah

Pasar Sorogenen Yogyakarta " Di Antara Dilema "

Pasar Sorogenen terletak di timur Bandara Adisucipto merupakan salah satu pasar tradisional di kawasan Kecamatan Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Meskipun pasar ini tidaklah terlalu besar seperti halnya Pasar Sambilegi yang terletak tidak jauh di barat Bandara Adisucipto, namun pasar ini menjadi alternatif bagi warga sekitar untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Mulai dari sayuran, sembako, jajanan, baju, alat rumah tangga, serta dus plastik juga ada.



Dahulu pasar ini di kenal dengan nama Pasar Manding. Dari sejak jaman nenek kami, pasar ini sudah ada. Saat ini kami merupakan salah satu pedagang yang berdagang di pasar ini lebih kurang 4 tahun yang lalu.

Menurut orang tua kami, hak pakai kios di pasar ini berasal dari Pemerintah Desa Purwomartani, oleh karenanya setiap tahun kami harus membayar sewa atas penggunaan kios. Pemakai pertamakali kios ini adalah nenek kami, kemudian saat ini kami yang melanjutkan pemakaian, setelah sebelumnya disewakan ke pihak lain.

Beberapa tahun terakhir banyak pasar - pasar tradisional yang mulai di perbaiki (renovasi) agar terlihat rapi dan bersih. Dan juga ada beberapa pasar tradisional yang diperluas dengan melihat situasi dan kondisi wilayah setempat. 

Sebagai masyarakat umum, mungkin kita bertanya, dari manakah dana yang digunakan untuk melakukan pembangunan tersebut. Jika dana yang digunakan adalah dana pembangunan Desa (dana khusus pembangunan), memang sudah seharusnya begitu. Dari rakyat untuk rakyat.

Namun apakah bisa dibenarkan jika pemerintah tidak memiliki anggaran, tapi dari beberapa pihak kok mau membangun ya ?

Ini adalah pertanyaan besar, tapi mungkin di anggap kecil olah kebanyakan orang. Mungkin sebagian dari anda ada yang berpendapat : " kan ada bank, kan bisa menjalin kerjasama dengan pihak lain (investor) ".

Jika pembangunan pasar dilaksanakan oleh pihak ketiga, bukan pemerintah dan pedagang, bisa saja pengelolaan nantinya akan di pegang oleh pemegang investor terbesar. Jika demikian, dikhawatirkan nantinya, biaya operasional sewa dan lain-lain akan sangat bergantung oleh investor. Jika para pedagang yang harus menanggung seluruh biaya pembangunan dengan beban sewa yang dijalankan, berapa besar kenaikan sewa kios pasar nantinya ? Apakah masih dalam range harga yang wajar, atau malah tidak terjangkau oleh para pedagang bermodal kecil (ratusan ribu) seperti kami ?

Sebuah wacana baru juga muncul, simpan pinjam, dari paguyuban pasar yang belum lama dibentuk. Meskipun kegiatan ini sebenarnya sudah ada sejak lama di wilayah pasar, baik yang dikelola pihak pasar maupun pihak luar, yang pada kenyataan peminjam dana adalah pihak yang sangat dirugikan (menurut penulis), namun hal tersebut dianggap sepele sebagian besar orang (pedagang).

Anggaplah kita meminjam dana kepada sebuah lembaga (BMT, rentenir, atau pengelola pasar) sejumlah 15 juta rupiah. Dengan angsuran harian (bulanan) yang sangat terjangkau dalam jangka waktu beberapa tahun, pinjaman kita yang 15 juta bisa menjadi lebih dari 20 juta dari seluruh cicilan yang kita bayarkan. Sama kan seperti kita kredit motor dan sejenisnya ???

Bunga dan riba masih ada di sekitar kita. Segala sesuatu itu akan bisa bertahan dan berkembang dengan proses. Jika kita menginginkan sesuatu (selain kebutuhan pokok), ya sisihkanlah sedikit demi sedikit penghasilan kita. Jika sudah saatnya bisa kita manfaatkan untuk tambahan modal, membeli kendaraan operasional, atau kebutuhn lainnya.

Pembangunan akan baik dan memberikan manfaat dan keberkahan bagi para pedagang dan yang berhubungan dengan operasional pasar, jika dipegang dan dikelola oleh orang - orang yang amanah dan memegang teguh prinsip agama seperti Rasullullah SAW.



Katakan Tidak Pada Riba
" Say No to Usury "





Related Posts

0 Response to "Pasar Sorogenen Yogyakarta " Di Antara Dilema ""

Post a Comment

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel